Apa Kabar Vitiligo?

Hampir 2 tahun yang lalu saya menuliskan tentang vitiligo di blog ini. Sejak saat itu saya sudah mengunjungi 2 orang dokter kulit, satu di RSCM, Jakarta (Prof. Benny E. Wiryadi) dan seorang lagi dokter di West Houston Medical Center. Keduanya menyarankan hal yang sama: penanggulangan langsung di area yang terdapat vitiligo.

Penanggulangan langsung yang disarankan Prof. Benny adalah dengan menggunakan salep dan menjemur bagian tubuh yang terkena vitiligo di bawah sinar matahari. Ketika itu Prof. Benny mengatakan bahwa ada cara lain yaitu dengan terapi laser. Kalau tidak salah di tahun 2009 harganya adalah Rp.100.000,-/cm. Dan terapi laser perlu dilakukan berkali-kali. Saya tidak punya biayanya.

Ketika pindah ke Houston dan kemudian mendapatkan asuransi kesehatan dari kantor suami, saya memutuskan untuk melanjutkan terapi kulit untuk vitiligo yang saya miliki. Dokter kulit menganjurkan 3 macam terapi, yaitu laser, suntik corticosteroid dan salep topical corticosteroid. Saya melakukan ketiganya.

Terapi laser di Houston cenderung lebih murah, yaitu USD40 untuk setiap kali datang dan tidak tergantung luas area vitiligo. Seluruh tubuh saya bisa dilaser dan harganya tetap sama. Terapi itu perlu dilakukan 2 kali seminggu dan seiring waktu kekuatan sinar laser akan ditingkatkan. Terapi ini perlu dilakukan selama paling tidak 3 bulan atau sampai terlihat perubahan ke arah lebih baik. Selain dengan terapi laser saya juga menggunakan 2 jenis salep.

Satu yang menjadi ganjalan; saya tidak yakin pengobatan seperti itu tepat bagi saya. Maksud saya dengan "pengobatan seperti itu" adalah pengobatan yang menggunakan cara-cara keras (laser, salep dan suntik yang mengandung steroid), sementara secara medis sendiri belum ditemukan cara untuk menyembuhkan vitiligo. Para ahli masih terus mencari jawaban. Tindakan yang biasanya dilakukan adalah memerangi area-area putih di tubuh pasien. Masalahnya adalah semakin hari saya semakin tidak yakin bahwa vitiligo adalah musuh. Paling tidak bagi saya.



Jangan salah, saya ingin vitiligo saya hilang atau tidak bertambah luas dan banyak, tetapi lebih penting dari itu, saya ingin tubuh dan batin yang sehat. Ketika hampir 4 bulan lalu saya memulai terapi laser dan corticosteroid saya juga mulai membaca lebih banyak tentang vitiligo. Saya memutuskan untuk menghentikan pengobatan konvensional, karena: (1) vitiligo saya tidak membaik setelah satu bulan, bahkan bertambah dan (2) saya mengkhawatirkan kesehatan saya secara umum dengan kehadiran dua komponen baru di dalam tubuh: sinar UV dosis tinggi dan corticosteroid, dan (3) saya merasa ada penyebab dari vitiligo dan memerangi akibat bukanlah cara yang ingin saya tempuh.

Sebelum saya lanjutkan, perlu ditegaskan bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membuat para pemilik vitiligo menghindari atau meninggalkan pengobatan konvensional, saya hanya ingin berbagi pengalaman dan perenungan.

Di forum-forum vitiligo, saya banyak menemukan teman-teman yang mulai mengkonsumsi vitamin dan makanan yang konon dapat membantu mengurangi vitiligo. Vitamin B12 dan teh hijau adalah dua hal yang katanya membantu. Saya kini mengkonsumsi keduanya secara teratur. Sebuah sumber juga mengatakan bahwa sebaiknya makanan yang mengandung kunyit dihindari. Saya juga melakukan hal itu. Sumber lain mengatakan bahwa segala macam penyakit sumbernya ada di dalam diri sendiri, yakni kekuatan pikiran.

Saya kemudian jadi berpikir tentang bersahabat dengan vitiligo. Saya mencoba untuk tidak khawatir berlebihan tentang area-area berwarna putih di tubuh saya. Saya berusaha tidak tersinggung ketika orang lain menganggap vitiligo sebagai sekedar panu. Saya berbagi pengetahuan yang saya miliki tentang vitiligo kepada mereka yang tidak memilikinya. Saya melatih pikiran dan hati saya untuk menerima kondisi yang saya miliki sebagai sesuatu yang wajar, bukan penyakit, bukan kesialan, apalagi kutukan. Setiap orang hidup dengan kondisi kesehatannya masing-masing. Saya kebetulan hidup dengan vitiligo.

Kalau mau jujur, sulit untuk benar-benar menerima kehadiran vitiligo, tetapi lebih sulit lagi untuk memusuhinya. Saya tidak bisa hidup dengan rasa benci, terutama terhadap sesuatu yang tidak bisa diubah. Terlalu melelahkan.

Vitiligo membawa saya kepada yoga. Praktik yoga membuat saya terdorong untuk lebih mengenal diri sendiri. Mengenal tubuh yang saya cintai. Tubuh yang memungkinkan saya melakukan berbagai petualangan dan kegiatan yang menyenangkan. Tubuh yang jadi kendaraan saya untuk hidup. Bukankah saya berhutang pada tubuh ini untuk -paling tidak- memperlakukannya dengan baik dan penuh welas asih?

Yoga membuat saya lebih mempercayai kekuatan pikiran yang hadir lewat ketenangan. Cinta yang hadir lewat ketenangan. Energi yang mengalir karena tubuh kita memperbolehkannya. Maka lewat guru yoga yang saya kagumi, saya bertemu dengan seorang ahli homepati di Houston bernama dr. Billie Martin. Sebelum melakukan praktek homeopati selama 30 tahun terakhir, dr. Martin adalah seorang dokter gigi. Lebih dari 30 tahun lalu ia terkena virus hepatitis dan beralih pada pengobatan alami dan mendapatkan tubuhnya bersih dari virus hepatitis tidak lebih dari 7 hari setelah melakukan pengobatan pertama.

Menurut situs Homeopati Indonesia, homeopati adalah salah satu metode pengobatan alternatif naturapati yang menyembuhkan penyakit secara holistik. Dalam pengobatan ini penyembuhan penyakit tidak hanya secara fisik saja, tetapi juga psikis. Semua obat homeopati berasal dari alam. Bahan-bahan tersebut berasal dari tumbuh-tumbuhan, hewan dan mineral.

Homeopati telah dipraktekkan selama ratusan tahun, baik di Asia maupun Eropa. Meski banyak yang pesimis, bahkan sinis terhadap homeopati, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang dengan berbagai macam penyakit dari yang ringan sampai akut berhasil sembuh.

Kemarin adalah kali pertama saya menemui dr. Martin. Ia menanyakan tentang berbagai macam hal, terutama mengenai pertama kali saya menyadari kehadiran vitiligo di tubuh saya. Apa yang sedang terjadi saat itu? Apakah secara mental dan emosional saya mengalami sesuatu yang penting ketika itu? Apakah saya cukup tidur? Apakah tidur saya tenang? Bagaimana level energi saya selama menjalani hari? Apakah saya berolahraga? Apakah saya bahagia?

Ia memberikan saya sebuah botol kecil berisi campuran ekstrak sebuah tumbuhan dan air. Terlihat seperti air, hanya terasa sedikit minty. Saya harus meminum 10 tetes cairan itu sebanyak 3 kali dalam 1 hari untuk 30 hari ke depan. Dalam seminggu ia meminta saya melaporkan perkembangan yang terjadi, bukan hanya kepada vitiligo tetapi kepada keseluruhan energi dan kebugaran tubuh.

Dr. Martin mengatakan bahwa vitiligo yang saya miliki hadir karena 2 hal: genetik (kakek dari kakek buyut saya juga punya vitiligo) dan mental. Energi saya tidak mengalir dengan benar. Tubuh saya tidak memperbolehkan energi mengalir secara lancar dan karenanya muncul ketidaknormalan dalam bentuk vitiligo. Sekali lagi, setiap orang memiliki kondisi kesehatannya yang unik. Dalam kasus saya, vitiligo adalah keunikan itu. Keunikan yang dalam dunia medis konvensional hadir karena sistem autoimmune dalam tubuh saya.

Saya belum memutuskan bilamana homeopati adalah cara terbaik untuk mengatasi vitiligo, tetapi saya sudah memutuskan bahwa homeopati adalah cara yang lebih baik daripada pengobatan konvensional. Paling tidak, pengobatan homeopati mencari sebab dan bukan hanya memerangi akibat.

Satu lagi perjalanan untuk lebih mengenal tubuh dan energi di dalamnya. Saya tidak sabar untuk 10 tetes selanjutnya!

Sila kunjungi: http://catatanvitiligo.blogspot.com http://catatanvitiligo.blogspot.com

Comments

  1. dear mba dini... saya mau tanya tentang homeopati... kebetulan anak saya terkena vitiligo.. dimana saya bisa mendapatkan cairan itu? terimakasih sebelumya...

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Salam kenal mbak, saya sedang browsing tentang vitiligo dan menemukan artikel ini. Anak perempuan saya berusia 11 bulan, terlihat bercak putih di bawah mulutnya. Setelah sekitar 2 minggu, mulai meluas ke ujung mulut yg satunya. Dokter spesialis kulit mengatakan dia ada bakat vitiligo. Lalu memberikan obat minum dlm bentuk racikan puyer dan salep bufacomb. Dokter jg menyarankan untuk fototerapi. Tapi blm saya lakukan, karena selain putri saya masih sangat kecil, saya jg blm mempelajari tentang efek samping fototerapi ini. Saya jg meminumkan jelly gamat. Senang sekali bisa sharing tentang penyakit ini. Saya sangat frustasi membayangkan dampak psikologis bagi putri saya kelak jika bercak putih di wajahnya blm hilang. Mohon share nya, kira2 langkah apa yg harus sy tempuh untuk pengobatan putri saya ini.

    ReplyDelete
  4. Mba andini, saya sendiri terkena vitiligo, saya mau tanya, bagaimana perkembangan viti mba saat ini apa ada perubahan lebih baik? Kalo ada bagaimana cara penyembuhan atau untuk menghambat penyebarannya?

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts