Bayi Burung Gereja

Di depan rumah ibu saya di Cinere ada kolam ikan. Dahulu saya suka duduk memandangi kolam itu dan memperhatikan ikan-ikan di dalamnya berenang. Di langit burung-burung beterbangan dengan bebas. Saya sering bertanya pada orang lain, manakah yang mereka pilih jika terlahir kembali, jadi burung atau ikan?

Saya biasanya tidak melakukan analisa panjang terhadap jawaban lawan bicara. Biasanya saya juga jadi sibuk memikirkan jawaban milik sendiri. Jawaban saya selalu berubah-ubah. Ikan dan kemampuannya untuk berenang dengan anggun terlihat sangat menarik. Tetapi untuk terkurung di dalam kolam seumur hidup pastilah sangat memuakkan. Atau jadi ikan yang diburu karena dianggap berharga, seperti salmon, tuna, atau paus dan hiu. Burung dapat terbang bebas di udara. Tetapi ada juga yang tidak cukup beruntung dan selamanya terkurung di dalam sangkar. Meski sangkar emas, namanya tetap sangkar. Hidup yang demikian itu pasti juga sangat menyengsarakan.

Sudah 4,5 tahun saya tinggal di Texas. Setahun lalu saya dan suami pindah ke sebuah daerah bernama Katy, di pinggir kota Houston. Sebelumnya kami tinggal di Houston. Perbedaan terbesar yang saya rasakan selama tinggal di Katy adalah lebih sering dan serunya interaksi dengan alam. Bukan alam bebas yang penuh dengan serigala atau ikan salmon yang melawan arus sungai, tetapi alam yang mengelilingi sebuah setting sub-urban, pepohonan dan danau, serta binatang-binatang yang meninggalinya. Burung-burung dan tupai, kura-kura dan ikan (kadang juga buaya bahkan ular).

Selama setahun terakhir sudah dua kali saya menemukan kura-kura sedang berupaya menyeberang pelan di tengah jalan. tiga kali saya menemukan bayi-bayi burung jatuh dari sarang. Di tiga kejadian ini burung-burung mungil itu masih hidup. Di luar yang tiga itu saya sering sekali menemukan bayi-bayi burung yang menyerah pada hukum alam dan mati tanpa sempat tumbuh bulu. Dan yang demikian itu sangatlah menyedihkan.



Beberapa minggu lalu, ketika sedang menyiram tanaman di halaman belakang, saya melihat Olive (anjing piaraan saya) sedang terkesima oleh sesuatu. Ketika saya dekati ternyata ada bayi burung gereja sedang kepayahan berusaha terbang. Ia melompat ketakutan ke sana dan ke sini, mencoba menjauhi Olive. Ketika saya angkat burung itu berusaha melompat tetapi gagal karena ia tak punya cukup tenaga. Akhirnya si mungil saya bawa masuk ke rumah karena saya belum yakin betul apa yang bisa saya lakukan. Biasanya bayi burung yang saya temukan jauh dari sarangnya saya bawa ke organisasi yang bekerja untuk binatang dari alam bebas. Nah, bayi yang satu ini rasanya jatuh dari sarangnya yang tak lain adalah salah satu saluran udara di tembok rumah saya.

Setelah melakukan riset saya kemudian tahu bahwa si bayi ini sudah masuk usia belajar terbang. Ia sudah punya cukup bulu, tetapi belum paham betul caranya terbang. Ada yang menyarankan untuk meletakkan burung itu di semak-semak dan membiarkan dia belajar untuk terbang sendiri. Biasanya si ibu burung membantu dan mengawasi anaknya ketika proses belajar ini. Ia akan bolak-balik menengok atau membawakan makanan. Jadi saya dan suami meletakkan si kecil di semak-semak sambil terus kami pantau pergerakannya. Ia tersungkur berkali-kali tetapi selalu mampu kembali berdiri. Tetapi lalu ia sepertinya kelelahan dan mungkin kedinginan sehingga ia tak lagi punya tenaga untuk bangun dari jatuhnya. Air mata saya meleleh melihat si bayi burung dari balik jendela. Ibu burung tak terlihat batang paruhnya. Karena tak tega akhirnya saya bawa si bayi masuk ke dalam rumah dan saya selimuti. Saya pasti sudah dimakan singa kalau hidup di alam bebas.

Menurut semua sumber, selama si burung tidak terluka, ia tidak perlu dibawa ke tempat-tempat yang bisa memberikan perawatan. Ia hanya perlu belajar terbang. Tapi bagaimana caranya saya yang tidak punya sayap ini mengajarinya terbang?

Setelah semalaman tidur di dalam rumah, berselimutkan handuk, saya akhirnya kembali membawa si kecil keluar. Kali ini saya letakkan dia di bawah sarangnya, berharap sang induk melihat bayinya. Dari dalam rumah saya bisa mendengar si kecil berciap-ciap dan kemudian saya juga mendengar suara ibunya menyahut. Tetapi si bayi tetap belum bisa terbang, ia bahkan sudah tidak lagi berlompatan. Mungkin sudah habis energinya dan belum ada makanan yang masuk mulutnya. Menurut sumber-sumber terpercaya sebaiknya kita tidak memberi makanan kepada bayi-bayi burung ini karena diet mereka yang tidak benar-benar kita pahami.

Akhirnya, setelah segala pertimbangan dan ketidaktegaan, kami mengembalikan si bayi ke sarangnya. Suami saya mempergunakan tangga untuk meletakkan si kecil kembali ke sarangnya. Hingga kini kami belum mengecek kembali apakah ia sudah bisa terbang atau malah mati karena ditolak ibunya. Moga-moga ia tidak mati. Ya Tuhan, semoga ia TIDAK mati.

Saya kini memilih untuk jadi ikan saja kalau diperbolehkan memutuskan. Atau kalau pilihannya hanya ikan atau burung. Betapa beratnya jadi seorang ibu burung, melihat anaknya jatuh berkali-kali, bahkan mungkin mati dalam upaya untuk mengajarinya terbang. Dan menjadi si anak pun tidak lebih mudah. Sulit sekali belajar terbang. Jatuh ke tanah, kaki mungkin patah, kemudian bisa juga terpisah dari ibu ketika belum siap betul.

Ah, tapi kalau dipikir-pikir, manusia pun mengalami yang seperti itu. Di satu titik orangtua akan melepaskan anaknya. Di satu titik orangtua harus siap melihat anaknya gagal, terluka, membuat kesalahan, dan mempercayainya untuk tetap berusaha belajar terbang. Dan di satu titik anak pun harus siap berpisah dengan orangtua. Akan datang saatnya di mana anak akan belajar mencari makan sendiri dan orangtua melanjutkan hidupnya tanpa si anak.

Anak saya belum lahir dan sudah terpikir tentang dia yang suatu hari akan terbang meninggalkan sarang. Sungguh luar biasa pikiran-pikiran yang bisa muncul selagi hamil. Beserta emosi-emosi yang kadang sangatlah lebay.


Comments

Popular Posts