Anak Perempuan

Kurasa kini Semesta memberiku anak perempuan bukan tanpa sengaja
Semesta tahu aku kuat dan berani meski lebih sering ku merasa sebaliknya
Semesta tahu aku cukup perkasa untuk menghadapinya, berjalan bersamanya
Semesta tahu
Aku yang tidak
Awalnya tidak, tetapi kini aku tahu

Perempuan, meski ini tahun 2018, lebih sering dipandang sebelah mata
"Terlalu emosional," kata mereka
"Lemah," kata mereka
Bahkan ada yang berani mengatakan, "Bodoh"
Bahkan ada yang mengatakan, "Tanpa laki-laki, apa sih perempuan itu?"
Tanpa perempuan, di mana laki-laki?

Bagi banyak budaya dan agama, punya anak perempuan berat bebannya
Bukan karena mereka perkasa, pandai, berani, dan intuitif
Tetapi karena mereka perlu dituntun, diberi arahan, dan bisa hamil
Hamil di luar nikah, maksudku
Dan membawa malu bagi keluarganya
Karena di banyak budaya dan agama,
pernikahan adalah saat anak perempuan tak lagi jadi tanggungjawab orangtua
tetapi milik suaminya

Anak perempuan dianggap jadi tanggungjawab ayahnya dan kemudian suaminya
Sedari lahir sudah dituliskan kisah hidupnya oleh orang-orang yang katanya mencintainya
Anak perempuan dilindungi, dituntun sambil ditutup matanya,
dianggap bunga yang ringkih dan bisa hancur oleh angin
Perempuan bisa masuk surga atau neraka jika tak diberi arahan yang betul
Lalu perempuan dicemooh karena tak sekuat laki-laki,
tak secerdas, tak bisa menavigasi hidupnya
Perempuan yang memilih jalannya sendiri pun dihujat
Tak menikah, tak mau punya anak, bicara dengan ketegasan,
membela apa yang ia percaya, memilih jalannya sendiri, meski sepi
"Tak tahu kodrat!" kata mereka

Anak perempuanku sangat emosional
Ia logis berpikir dengan perasaannya
Ya, logis berpikir dengan perasaannya
Mungkin juga karena usianya masih tiga
Emosinya meluap-luap, kadang tak masuk akal
Tapi ia tahu apa yang ia mau
Ia tak ragu menuntut yang ia anggap hak nya
Dan ia memang benar-benar tak paham arti kodrat
Anak perempuanku bebas dari ekspektasi

Anak perempuanku, kuat dan perkasa
Di usianya yang tiga tahun ia memilih kata-kata yang sesuai dengan isi hatinya
Sesuai dengan isi kepalanya
Ia keras, tapi penuh kelembutan
Ia mudah marah, tapi mudah juga memaafkan
Kadang ia menantangku dengan matanya
Lalu dia memeluk wajahku dengan tangan-tangan mungilnya
Anak perempuanku tahu kekuatannya dan ia cinta pada dirinya
Mungkin sebesar rasa cintaku padanya

Anak perempuanku akan bertanggungjawab terhadap hidupnya sendiri
Ia tak perlu laki-laki untuk menggembalakan dirinya
Doaku ia akan terus lantang bicara, berani membantah
Tak ragu menantang, gemar mempertanyakan
Doaku ia tahu bahwa ia tak butuh orang lain untuk buatnya bahagia
Doaku ia tak gentar ketika dihadapkan pada neraka atau surga
Doaku ia selalu mendengar kata hatinya dan tak ragu memperjuangkannya
Doaku agar api di hatinya tak pernah padam
Doaku agar ia merangkul perempuan-perempuan lain
untuk menyelimuti dunia dengan energi feminin
Energi feminin yang sudah terlalu lama dipandang sebelah mata oleh dunia

Semesta memberiku anak perempuan karena aku membutuhkannya


Andini Haryani
15 Mei 2018


Comments

Popular Posts