Berkenalan dengan Peru

Machu Picchu ada di bucket list hampir semua orang, termasuk saya dan suami. Tetapi bukan hanya situs tua itu yang membuat Peru menarik. Negara itu penuh dengan warna, suara, dan cerita. Saya, suami, dan anak kami beruntung bisa merasakan sejenak keramahan negara itu dan manusia-manusianya.

LIMA
Awal perkenalan kami dengan Peru terjadi di Lima dan dengan Lima. Ibukota negara dengan penduduk 30 juta orang itu berlokasi di bibir pantai. Bagian baratnya memandang Lautan Pasifik. Lima adalah kota yang sibuk dan berisik dengan banyak sekali tempat makan enak, orang-orang yang bergegas, dan anjing-anjing yang lucu. Saya suka anjing maka bagi saya detail ini penting.

Kami memilih untuk menginap di sebuah Airbnb di daerah Miraflores, sebuah daerah di selatan pusat kota. Miraflores adalah area berkelas yang sedap dipandang dan memiliki banyak daya tarik bagi mereka yang suka belanja serta makan enak. Miraflores adalah daya tarik utama Kota Lima.

Pesawat kami mendarat di Lima pada hari Minggu pukul 07.00 dan kamar Airbnb kami baru siap ditempati pada pukul 14.00. Kami memutuskan berjalan kaki di sekitar bibir pantai, sarapan di salah satu cafe yang memandang Lautan Pasifik, dan menemani Lila bermain di sebuah taman bermain. Lima mendung dan kelabu pagi itu. Ternyata sudah beberapa hari matahari tak menampakkan diri. Kata orang setempat memang hampir selalu demikian kalau sudah masuk bulan November.





Setelah makan siang di sebuah restoran taco di Jalan Jorge Chavez, kami kemudian menuju Huaca Pucclana, sebuah situs Inka kuno yang berada di tengah Miraflores. Situs ini dahulu merupakan pusat administrasi dan upacara bagi kebudayaan Lima kuno. Menurut pemimpin tur kami siang itu, piramid Huaca Pucclana dibangun pada tahun 500 M. Tanah liat adalah materi yang dipergunakan untuk membangun setiap struktur bangunan kuno ini. 





OLLANTAYTAMBO
Keesokan paginya kami bersiap berangkat ke kota bernama Ollantaytambo. Perjalanan ke Ollantaytambo kami mulai dengan terbang ke Cusco (1,5 jam) lalu dilanjutkan dengan berkendara selama 1,5 jam lagi. Penerbangan kami ditunda selama hampir 1,5 jam. Untungnya Lila tertidur selama menunggu penerbangan dan selama di pesawat. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa penerbangan domestik (dan juga internasional) di Peru hampir selalu terlambat. Cuaca biasanya jadi alasan utama, tetapi seringkali juga tidak ada penjelasan sama sekali. Maka yang terbaik adalah punya jadwal fleksibel dan mengalokasikan waktu yang cukup untuk dan di antara setiap kegiatan yang ingin dilakukan selama di Peru. Ambisi untuk melakukan terlalu banyak sungguh tidak disarankan.




Ollantaytambo adalah salah satu kota di lembah Andes, bagian dari area Sacred Valley yang merupakan bagian penting dalam peradaban Inka masa lalu. Kami memilih untuk menginap selama dua malam di Ollantaytambo untuk aklimatisasi dan menikmati suasana yang tidak hingar bingar. Urubamba adalah kota lain yang dapat jadi pilihan untuk aklimatisasi di Sacred Valley. Bila dibandingkan dengan Ollantaytambo, Urubamba cenderung lebih sibuk dan ramai.

Ollantaytambo adalah tempat suku Inka masa lalu bertempat tinggal setelah Cusco dikuasai oleh Spanyol. Hingga hari ini tata kotanya tidak berubah dari sejak dibangun oleh Suku Inka. Menyenangkan sekali menyusuri gang-gang kecilnya! Berada di Ollantaytambo seakan dibawa ke masa lalu. Jalanannya tidak beraspal tetapi berbatu. Kotanya mungil, namun apik dan bersih meski anjing-anjing bebas berkeliaran.

Hostel Iskay jadi tempat kami beristirahat selama mengeksplorasi Ollantaytambo. Hostel ini punya pemandangan yang luar biasa indah! Dari kamar hotel kami, reruntuhan Ollantaytambo (Ollantaytamnbo Ruins) bisa kami nikmati setiap hari.






Reruntuhan Ollantaytambo
Di abad ke-15, Pachacutec, salah satu pemimpin Inka yang paling dikenal dan disegani, menundukkan dan mulai membangun Kota Ollantaytambo. Ia membuat saluran irigasi dan mendirikan teras-teras pertanian, seperti sistem terasering di Indonesia. Teras-teras ini dibangun hingga demikian tinggi dan menjadi pusat kegiatan religi dan kemudian berubah fungsi menjadi benteng pertahanan dalam upaya melawan penjajah Spanyol. Ollantaytambo sendiri kemudian menjadi tempat tinggal bangsawan Inka. 

Reruntuhan Ollantaytambo adalah daya tarik utama kota ini. Dari kejauhan teras-terasnya sudah membuat takjub. Ketika menaiki tangga-tangganya dan tiba di bagian atas barulah kami menyadari betapa besar dan megahnya konstruksi reruntuhan itu. Seluruh Kota Ollantaytambo, bahkan sebagian area Sacred Valley, dapat terlihat dari atas!





Kompleks reruntuhan terdiri atas beberapa bagian. Di bagian atas terdapat Templo del Sol (Kuil Matahari) yang terdiri atas batu-batu raksasa yang masing-masing beratnya paling tidak 50 ton. Kuil ini sendiri sesungguhnya tidak sempurna alias belum selesai dibangun, namun ditinggalkan begitu saja. Mungkin disebabkan oleh kehadiran Spanyol. Di bagian bawah reruntuhan terdapat lokasi untuk beragam upacara adat dan keagamaan. Templo del Agua (Kuil Air) juga berada di bawah.





Dari teras di bagian atas reruntuhan, kami dapat melihat sebuah bangunan berbentuk rumah di bukit seberang (Pinkuylluna Mountain Granaries). Bangunan ini dipergunakan sebagai tempat untuk menyimpan bahan-bahan pangan dan hasil bumi. Bila diperhatikan dengan seksama dapat dilihat sebuah wajah. Orang lokal percaya wajah ini adalah milik Wiracocha, salah satu tokoh penting dalam sistem religi Inka. Wiracocha dipercaya sebagai pencipta segala. Kami bertiga melakukan pendakian ke bukit dengan wajah Wiracocha di hari ketiga berada di Ollantaytambo. 

Untuk memasuki Reruntuhan Ollantaytambo dan daya tarik wisata lain di kawasan Sacred Valley dipungut biaya 70 Soles untuk 2 hari dan 130 Soles bila ingin tiket terusan untuk 10 hari dan mencakup daya tarik wisata di Sacred Valley dan Cusco. 




Pinkuylluna Mountain Granaries




AGUAS CALIENTES DAN MACHU PICCHU
Dari Ollantaytambo kami naik kereta Inca Rail untuk mencapai Aguas Calientes di hari ke-4 berada di Peru. Pemandangan sepanjang jalan teramat indah. Kereta tidak dilengkapi dengan sistem pendingin, namun angin sejuk dari luar membuat suasana di dalam gerbong tetap nyaman.

Aguas Calientes lebih dikenal dengan nama Machu Picchu Town karena berada di kaki Machu Picchu dan situs itu yang membuat kota ini ada. Bus untuk ke Machu Picchu berangkat dari kota ini setiap hari mulai dari pukul 05.30 pagi.

Perjalanan dengan kereta dari Ollantaytambo ke Aguas Calientes memakan waktu 1,5 jam. Ada dua perusahaan kereta yang beroperasi di sini; Inca Rail dan Peru Rail. Meski melayani jalur yang sama namun harga dan waktu keberangkatan berbeda.

Machu Picchu Town adalah kota yang tidak menarik. Jalanan utama berisikan tempat-tempat makan dan toko-toko suvenir. Tidak ada daya tarik lain selain Machu Picchu. Oleh karena itu yang kami lakukan ketika berada di sini hanyalah makan dan tidur. Pukul 05.00 kami sudah bersiap untuk mengantri naik bis, berharap jadi orang-orang pertama yang memasuki Machu Picchu hari itu.






Cerita tentang Machu Picchu akan saya dedikasikan dalam satu artikel tersendiri. Situs itu terlalu luar biasa untuk dibahas sekejap saja.

CUSCO
Di hari ke-5 setelah mengunjungi Machu Picchu, kami kemudian naik kereta kembali ke Ollantaytambo. Dari Ollantaytambo kami lalu naik mobil ke Cusco. Hari yang teramat panjang dan melelahkan. Kami tiba di El Balcon, hotel kami di Cusco, pada pukul 21.00. Lila tidur di mobil selama perjalanan karena di kereta ia tidak bisa tidur. Kereta kami sempat terhenti selama kurang lebih 45 menit karena kereta di depan kami terkena masalah mesin. Ketika kereta tidak bergerak, angin pun tidak masuk ke gerbong. Terlalu panas.

Cusco adalah kota yang cantik. Pengaruh Spanyol jelas terlihat. Bangunan-bangunan kolonial dapat ditemukan dengan mudah di pusat kota. Jumlah turis pun sangat banyak karena tidak sedikit calon pengunjung Machu Picchu yang melakukan aklimatisasi di sini. Kami tidak melakukan hal ini karena: 1. Cusco berada di lokasi yang jauh lebih tinggi dari Machu Picchu dan oleh karenanya lebih mudah terkena altitude sickness di sini, dan 2. Untuk mencapai Aguas Calientes dengan kereta butuh waktu kurang lebih 3 jam dan stasiun kereta pun tidak berada di Cusco, melainkan di Poroy, 20 menit berkendara dari pusat kota.

Karena Machu Picchu dan perjalanan menuju Cusco sudah memakan energi kami bertiga, maka saya dan Aris memutuskan untuk santai dalam mengeksplorasi Cusco. Meski di sekitar kota ada beberapa reruntuhan Inka yang menarik, namun kami tidak mengunjungi mereka dan memilih untuk berjalan-jalan kaki di dalam kota saja.

Cusco merupakan ibukota Kerajaan Inka dari abad 13 hingga 16 ketika Spanyol menguasai Peru. Di tahun 1983 UNESCO mentahbiskan kota ini sebagai salah satu Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) karena kekayaan bangunan bersejarahnya.

Sesungguhnya tidak sulit menavigasi Cusco, namun kami sempat juga tersesat karena jalan-jalannya terlihat mirip. Seperti di kota-kota lain di Peru, dibutuhkan kehati-hatian tinggi dalam menyeberang jalan. Pengendara mobil mungkin jauh lebih asal-asalan daripada di Jakarta.






Kami mengakhiri perjalanan di Peru dengan kembali ke Lima dan kemudian terbang ke Houston dari sana. Meski perjalanan kami totalnya 9 hari, namun hanya 7 yang benar-benar kami pergunakan untuk melihat dan merasakan Peru. Sisanya dipakai untuk traveling ke dan dari Peru. Mungkin 10 hari adalah waktu yang lebih masuk akal. Meskipun jujur saja, setelah Machu Picchu rasanya kami sudah siap untuk pulang. Untung saja Cusco cukup memikat hati.

Comments

Popular Posts