Rindu

Rindu rumah Cinere dan halamannya yang hijau, luas dan teduh. Rindu tukang-tukang roti yang lewat di depan rumah setiap pagi, berlomba jingle terburuk. Rindu Oreo dan Kunil yang bisa bebas berlari dan menerobos pagar. Rindu suara telepon rumah yang tidak pernah diangkat, karena kami semua terlalu malas bergerak. Rindu Mbak Ti yang datang jam 09.00 pagi dan kekuatan supernya dalam membersihkan rumah. Rindu ibu yang selalu heboh mengajakku ngobrol justru ketika aku sedang diburu deadline. Rindu adikku yang selalu membuatku tertawa dengan selera humornya yang aneh. Rindu rumah. Rindu kamarku yang sempit dan penuh kertas.

Rindu entah apa, mungkin semua.
Rindu sekali, hingga nyeri.

Comments

Popular Posts