Pasar Cisarua

Ini oleh-oleh dari Cibulan; suasana Pasar Cisarua yang tertangkap kamera. Pasar ini penuh dengan barang kebutuhan sehari-hari, manusia, motor, lalat, dan angkot. Angkot yang memaksa meringsek masuk pasar meski jalanan jelas-jelas sempit luar biasa. Tapi tetap saja aku suka pasar tradisional. Ini Indonesia. Indonesia yang aku suka. Ya, meski banyak lalat.


Aku tidak ingin terlahir kembali jadi ikan lele atau ikan mas.


Itu angkot yang aku ceritakan tadi. "Masa bodo, pokoknya saya mau cari penumpang di tengah pasar, meskipun bokong ibu-ibu itu harus terserempet," mungkin itu kata supir angkot dalam hati.


Aku juga tidak mau terlahir kembali sebagai ayam. Meski jadi ayam yang montok seperti mereka.


Pete. Pete temannya MacGyver.


Ini Tante Wiwiek. Dia jago masak. Berhubung sedang berada di Jawa Barat, maka ia membeli mentimun untuk dijadikan lalapan.


Ah, aku juga tidak mau terlahir kembali sebagai sapi.


Apakah Anda suka minum es teh manis ketika sedang makan di warteg? Atau teh botol dengan es? Hmmm...



Beraneka ragam kerupuk. Aku suka kerupuk. Anda juga? Sebaiknya hindari kerupuk yang warnanya terlalu cerah ceria. Itu menurut suatu acara investigasi di televisi yang pernah aku tonton.


Ah, lihat warna-warninya! Nah, kalau sayur dan buah, semakin berwarna-warni semakin baik!


Aku baru tahu kalau tahu mentah ini direndam dalam air yang diberi kunyit. Karena itulah warnanya kuning genit ketika dimasak nanti.

Aku masih pikir-pikir bilamana aku mau terlahir kembali sebagai bebek. Atau mungkin sudah keduluan jadi telur asin sebelum jadi bebek?


Entah mengapa deretan ikan asin ini membuat ibuku senang sekali.


Terima kasih Hardi, Parid (ya, P-arid), Ibu, dan Tante Wiwiek!

Comments

Popular Posts