Rumah Citarum

Dahulu, eyang putri dan eyang kakungku (keduanya sudah almarhum) pernah menempati sebuah rumah di kawasan Cideng, Jakarta Pusat, tepatnya di Jl. Citarum No.6. Rumah itu istimewa, untuk beragam alasan.

Kenangan masa kecilku bersama sepupu-sepupu banyak terjadi di rumah itu. Sembilan orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan, semua bermain bersama di akhir pekan, di rumah eyang, membuat rumah penuh suara dan warna. Selalu seru, selalu ada saja yang membuat hari kami menyenangkan. Mulai dari mencari ikan kecil di got depan rumah, berlari-lari di lorong rumah, bermain petak umpet di kamar-kamarnya, dan bermain dengan binatang. Kedua eyang kami suka binatang, mulai dari yang masuk akal untuk dipelihara sampai yang tidak sama sekali. Mulai dari anjing, tikus putih, kancil, hingga buaya. Ya, buaya. Buaya dewasa. Seorang pembantu baru pernah pingsan gara-gara si buaya berhasil keluar kolam karena airnya yang meluap akibat hujan. Masa-masa menyenangkan.

Rumah itu besar, tetapi selalu terasa sedikit menyeramkan untukku. Khas rumah tua yang seakan menyimpan sebuah rahasia atau cerita sedih. Auranya selalu begitu, meskipun semua yang tinggal di dalamnya adalah orang-orang yang penuh cinta. Sesungguhnya bukan hanya rumah itu. Seluruh daerah itu seperti memiliki ketidaknyamanan. Paling tidak untukku. Bagi ibuku rumah itu adalah tempatnya berlindung, bersembunyi dan tumbuh besar. Ia mencintainya.

Dua hari yang lalu aku mendapatkan penugasan untuk meliput sebuah restoran. Namanya Huize Trivelli atau "rumah kami yang berada di Laan Trivelli". Restoran dengan konsep "tempo doeloe" itu terletak di Jl. Tanah Abang II No. 108. Dahulu Jl. Tanah Abang II memiliki nama yang berbeda, yaitu Laan Trivelli. Setelah kekuasaan Belanda jatuh, porak-poranda dan dapat dicaci-maki secara terbuka, segala nama yang berbau Belanda pun cepat-cepat diganti. Nama jalan itu salah satunya.

Obrolan dengan manajer operasional restoran Huize Trivelli berlangsung lama. Ia banyak memberikan fakta-fakta sejarah menarik tentang Jakarta, tentang budaya Indische dan tentang masa-masa jatuhnya kekuasaan Belanda. Di awal wawancara ia mengeluarkan sebuah buku tentang Tjideng (Cideng), yaitu area yang meliputi Tanah Abang dan jalan-jalan di sekitarnya, termasuk Citarum. Buku itu tentang kamp konsentrasi yang berada di daerah Cideng bagi perempuan dan anak-anak berkebangsaan Eropa ketika Perang Dunia II, ketika kekuasaan Indonesia jatuh ke tangan Jepang.

Diceritakan bahwa keadaan di kamp-kamp semacam ini yang berada di seluruh Nusantara sangat buruk dan menyedihkan. Kamp konsentrasi di Cideng dikepalai oleh Kapten Kenichi Sonei, si bengis yang pada akhirnya mati di tangan regu tembak Belanda. Ia dianggap sebagai penjahat perang. Kebengisan Sonei ditunjukkan dengan sikap kerasnya terhadap tawanan lewat pemutusan akses terhadap makanan, bahkan sanitasi. Ia juga gemar memukuli tawanan, menyiksa mereka jika tidak hormat dengan benar dan menggunduli kepala para perempuan tawanan jika dianggap bersalah. Ketika bulan sedang purnama kebengisannya semakin menjadi-jadi.

Rumah-rumah milik penduduk sipil dipergunakan sebagai tempat menampung para tawanan. Di dalam satu rumah terdapat banyak keluarga yang terdiri atas ibu dan anak-anaknya (anak laki-laki di atas umur 12, kadang 10 harus pergi ke kamp yang lain). Pintu-pintu rumah dicopot dan tembok rumah dihancurkan agar dapat memuat lebih banyak orang. Awalnya Kamp Tjideng memiliki 5000-an tawanan dan bertambah hingga jumlahnya lebih dari 10.000 orang! Mereka terserang berbagai penyakit dan tak sedikit yang meninggal. Tak sedikit anak-anak yang dahulu sempat ditawan di sana di antara tahun 1942-1946 kini berupaya agar fakta-fakta miris di abad lalu itu diungkap ke permukaan. Mereka saling mencari sesama tawanan dan berbagi cerita. Berikut beberapa situs mereka: Tjideng Camp: A Women and Children's Internment Camp dan Tjideng Camp.

Dalam perjalanan pulang dari liputan itu aku hanya bisa berpikir tentang rumah eyang. Apakah rumah eyang adalah salah satu tempat perempuan dan anak-anak itu ditawan? Apakah rumah eyang dahulu menjadi salah satu tempat Kapten Sonei menggunakan kekuatannya untuk menyiksa para tawanan? Apakah ada perempuan atau anak kecil yang menghembuskan nafas terakhirnya di lantai rumah itu? Aku ingin segera bercerita kepada ibu tentang fakta mengenai Cideng.

Di akhir pembeberan fakta sejarah yang baru aku terima hari itu kepada ibu, ia hanya melihatku dengan datar. Padahal suaraku sudah naik setengah oktaf dan kecepatan bicaraku menjadi lebih cepat karena luapan emosi. Ia kemudian menanggapi, "Rumah itu memang salah satu tempat mereka menawan orang-orang Eropa di Perang Dunia II, Din. Waktu ibu remaja beberapa orang Belanda pernah datang dan bercerita bahwa di rumah itulah mereka ditawan." Aku tercekat. Terutama setelah ibu menambahkan bahwa dahulu tamu-tamu Belanda itu sering menyelinap keluar lewat lubang yang mereka gali sendiri untuk mencari bahan makanan dan barter dengan penduduk setempat. Setelah rumah dibeli oleh eyang, lubang itu disemen seadanya. Dahulu kami suka mengarang cerita tentang semen aneh itu. Tetapi tak ada yang mendekati cerita aslinya.

Aku tidak bisa berhenti memikirkan bahwa orang-orang Belanda itu ketika ditawan seumuran denganku dan sepupu-sepupu ketika kami suka menjelajah rumah Citarum. Mereka juga menjelajah, namun tidak seperti kami, mereka melakukannya untuk urusan hidup dan mati. Ah, ternyata benar, ada cerita pilu yang disimpan rapat-rapat di balik pintu-pintu rumah Citarum.

Comments

  1. makasih ya...
    keren, jadi dapat ilmu baru.
    Lu sepertinya punya sejarah yang panjang
    gue gak ngerti sejarah gue, hehehe
    jadi buat aja sejarah baru

    ReplyDelete
  2. Thanks, Ayah.. Membuat sejarah sendiri kayanya lebih keren daripada dikasih sm orang lain.. Hehehe..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts