On DEATH.. Something I wrote back in 2005.

Hari ini aku datang ke pemakaman seseorang.. Bukan seseorang yang aku kenal dengan dekat. Hanya beberapa kali bertemu, itupun beberapa tahun yang lalu..

Jam 10.30, berdiri di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, di sisi liang kubur, yang sudah siap menerima jenazah almarhum.. Panas.. Matahari sama sekali tidak bersahabat.. Namun doa-doa terus dipanjatkan.. Untuk almarhum, dan mereka yang ditinggalkan..

Pikiran melayang.. Manusia itu kecil.. Tak berkuasa.. Terutama atas hidupnya.. Dan disana aku berdiri, di sisi liang kubur, yang siap menerima tubuh kaku sang almarhum.. Ku sapu pandangan ke segala penjuru. Orang-orang berdoa, menangis, menyapu keringat, mencari tempat berteduh... Di segala penjuru ada manusia-manusia fana, yang tidak punya kuasa atas hidupnya. Atas anugerah terbesar yang pernah diterimanya. Dan disana aku berdiri, menjadi bagian dari akhir cerita hidup seorang manusia...

Entah kapan giliranku.. Masuk ke liang kubur, atau jadi abu dalam tungku kremasi.. Lalu apa? Akhir ceritakah? Atau petualangan yang lebih hebat sedang menunggu di ujung sana? Manusia hanya bisa menerka, tanpa sekalipun tahu kepastiannya, kecuali tubuh sudah kaku dan terkubur di dalam tanah.. Dan kau tidak bisa menceritakannya kepada siapapun. Maka hanya akan tetap jadi misteri yang akan dipecahkan jiwa per jiwa..

Ah, misteri yang satu itu memang tidak akan pernah terungkap.. Tidak juga perlu dipertanyakan.. Jadi orang baik di dunia, mungkin itu kuncinya.. Kunci kepada apapun yang kau percaya SAAT INI.. Tak perlu melihat untuk percaya.. Tak perlu percaya untuk melihat..

Hari ini jadi istimewa.. Karena kematian seorang anak manusia dan juga karena pertanyaan seorang Romo pada adikku, “Kakakmu masih ke Gereja?”

Aku disentil.

Tak perlu melihat untuk percaya..

Syukur ini begitu kuat, maka aku tidak perlu melihat.

Comments

Popular Posts